Serang-Dalam rangka memperingati hari kunjungan perpustakaan yang jatuh pada 14 September lalu. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten menggwlar sejumlah kegiatan. Diketahui, Kegiatan pada hari kunjung tersebut bertemakan Literasi Hebat, Banten Kuat. Plt Sekretaris DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, bahwa pihaknya menggelar sejumlah kegiatan yang dimulai sejak 19 hingga 24 September 2022 mendatang. “Kegiatan ini juga didukung oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Banten, Gramedia Cilegon, dan Buka Buku,” katanya, Selasa (20/9). Dalam memperingati hari kunjungan tersebut, pihaknya menggelar beberapa kegiatan yang dilaksanakan di kantor DPK Provinsi Banten. “Beberapa kegiatan itu mulai dari bazar buku bekerjasama dengan beberapa penerbit, yakni Gramedia, dan Buka Kita Grup. Bazar kali ini menghadirkan berbagai diskon, termasuk menjual buku dengan hara mulai dari Rp5 ribu,” ujarnya. “Bukunya juga beragam varian subjeknya, ada untuk pengembangan diri, agama, novel, termasuk buku untuk anak-anak. Dan pastinya bukunya murah mulai dari Rp5 ribuan,” katanya. Kemudian kegiatan lainnya pada 19 Agustus yakni bedah buku ‘Bukan Cinderella’, dan donasi buku. Selanjutnya pada 20 Agustus, pertama pemberian penghargaan kepada pemustaka dan penggiat literasi, kedua ngobrol bersama Bank Indonesia tentang ‘Aku Cinta Rupiah’, dan ketiga ngobrol kepenulisan bersama Senselly penulis ‘My Ex-Wife’. “Selanjutnya pada tanggal 21 Agustus, yakni ngobrol bersama Wildan dan Hilmi ‘Ada Tapi Tak Dianggap’. Tanggal 22 Agustus lomba menulis surat siswa SD, dan 23 Agustus ngobrolin buku ‘Terima kasih telah bertahan dan terima kasih telah melepaskan’ bersama Getar Krisna,” ujarnya. Tambahnya, 24 Agustus, yakni pertama kegiatan lomba mewarnai bersama Gramedia, kedua dongeng bersama kak Ihan, dan ketiga akademi kepenulisan Patjar Merah bersama agromedia. “Jadi kegiatannya satu pekan ini, kalau untuk bazar dan donasi kita buka meskipun hari Sabtu, tapi kalau untuk layanan perpustakaan kita tutup,” katanya. (Adv)
advetorial
Penuhi Standar, DPK Provinsi Banten Bina Perpustakaan Sekolah
Serang-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten melakukan pembinaan perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah di wilayah Banten agar memenuhi standar kelayakan perpustakaan. Kabid Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, pihaknya mendatangi perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah untuk dilakukan pembinaan pada sekolah kewenangannya, yakni SMA dan SMK. “Jadi kita datangi sekolah-sekolah, dan kita bina perpustakaannya,” ucap Evi saat diwawancara, Selasa (20/9/2022). Setelah pembinaan dan pendampingan tersebut dilakukan selama dua tahun, saat ini terdapat 16 sekolah yang sudah dijadikan pilot project dan 180 sekolah yang sudah terakreditasi. “Hal pertama yang kita sasar ketika ke sekolah adalah keberpihakan kepala sekolah dalam pengembangan perpustakaan sekolah,” katanya. Selain itu, perpustakaan sekolah juga salah satu yang mendorong peningkatan indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM). Karena salah satu unsurnya adalah perpustakaan sekolah. “Untuk mendongkrak IPLM, salah satu unsurnya adalah akreditasi perpustakaan sekolah, jumlah koleksi buku, dan jumlah pustakawannya. Karena masih sangat minim, ini menyumbang banyak kenapa Banten menjadi lima terbawah dari capaian IPLM nasional,” katanya. (adv)
Lakukan Inovasi, DPK Banten Sasar Anak-anak TK
Serang-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten membuka layanan kunjungan untuk sekolah, komunitas dan lain sebagainya. Kabid Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, layanan tersebut sempat ditutup ketika ada pandemi covid-19. “Tapi sejak April lalu, layanan kunjungan ini kembali kita buka,” katanya, Selasa (13/9/2022). Menurutnya, kegiatan kunjungan tersebut terbuka untuk siapa saja, asalkan berkoordinasi atau mengirimkan surat. “Nanti akan ada yang memandu, dalam layanan kunjungan ini,” katanya. Guru TK Islam Khoirunnas Ciruas mengapresiasi pelayanan yang diberikan oleh DPK Banten tersebut. “Alhamdulillah pelayanan sangat baik. Kami sangat puas dengan layanannya, karwna dipandu dna diajak keliling, sehingga anak-anak juga senang,” katanya. Menurutnya, layanan tersebut sangat membantu, terutama dalam memperkenalkan anak-anak TK tersebut kepada hal-hal yang tidak ditemukan di sekolah. “Anak-anak jadi lebih semangat dalam belajar dan membaca buku,” katanya. (Adv)
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten Lakukan inovasi Pelayanan
Serang-Dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten terus melakukan inovasi. Kabid Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, banyak layanan perpustakaan yang bisa dinikmati oleh masyarakat. “Konsep layanan perpustaakan berkembang, bukan hanya soal penyediaan buku, tapi kemudian mejadi tempat belajar bersama,” katanya, saat ditemui pada Selasa (13/9/2022). Menurutnya, banyak media yang telah disediakan oleh DPK Provinsi Banten, untuk dapat dinikmati oleh masyarakat. “Baik layanan internet, ruang anak, kegiatan mendongeng, konsultasi perpustakaan, perpustakaan keliling, dan lain sebagainya,” katanya. Berdasarkan data DPK Provinsi Banten, pihaknya memiliki jumlah pustaka tercetak dan terekam sebanyak 61.483 judul dengan total 179.262 eksemplar. Jumlah tersebut meliputi koleksi sirkulasi dan referensi sebanyak 28.468 judul dengan 91.403 eksemplar, koleksi buku MUPK 8.885 judul dengan 26.665 eksemplar, koleksi Banten Corner dengan 985 judul dengan 2.955 eksemplar dan koleksi sumbangan atau hibah 12.900 judul dengan 15.651 eksemplar Kemudian, koleksi deposit atau KCKR sebanyak 3.840 judul dengan 4.638 eksemplar, koleksi terbitan berkala 150 judul dengan 1.064 eksemplar, koleksi silang layang 2.401 judul dengan 21.213 eksemplar. Selain itu ada koleksi buku digita atau eBook sebanyak 3.564 judul dengan jumlah 15.068 copy, koleksi braille 131 judul dengan 306 eksemplar, dan koleksi terekam atau film sebanyak 159 judul dengan 299 copy. (Adv)
DPK Provinsi Banten Buka Layanan Perpustakaan Keliling
Serang-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten memberikan layanan kepada masyarakat terutama di daerah terpencil atau yang akses jangkauan ke perpustakaan jauh, berupa perpustakaan keliling. Sejauh ini DPK Provinsi Banten memiliki lima mobil perpustakaan keliling. Keberadaanya telah membantu masyarakat untuk dekat dengan berbagai macam literatur. Kabid Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, sejauh ini perpustakaan keliling sudah menjangkau 124 titik yang menyebar di seluruh Provinsi Banten. “Dari ujung utara, selatan, barat dan timur. Semua kita jangkau,” katanya saat diwawancara pada Selasa (13/9/2022). Untuk memudahkan layanan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Perpustakaan yang ada di kabupaten kota. “Masyarakat juga bisa langsung minta ke kita, seperti sekolah, komonitas atau apapun yang membutuhkan layanan pusling,” katanya. Menurutnya, Pusling itu untuk memberikan akses alternatif daerah di pelosok yang jauh dari layanan perpustakaan. Jadi mendekatkan buku ke masyarakat dengan Pusling. Diketahui, masyarakat bisa menikmati mobil perpustakaan keliling secara gratis, dengan cara melayangkan surat permohonan kunjungan ke daerah tertuju, berdasarkan waktu dan tempat yang diusulkan. (Adv)
Buka Layanan Kunjungan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten Terus Lakukan Terobosan
Serang-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten membuka layanan kunjungan untuk sekolah, komunitas dan lain sebagainya. Kabid Layanan Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Evi Syaefudin mengatakan, layanan tersebut sempat ditutup ketika ada pandemi covid-19. “Tapi sejak April lalu, layanan kunjungan ini kembali kita buka,” katanya, Selasa (13/9/2022). Menurutnya, kegiatan kunjungan tersebut terbuka untuk siapa saja, asalkan berkoordinasi atau mengirimkan surat. “Nanti akan ada yang memandu, dalam layanan kunjungan ini,” katanya. Selain bahan bacaan anak, pengunjung bisa menikmati fasilitas berbagai permainan edukasi anak. Bahkan, DPK Provinsi Banten memfasilitasi dongeng untuk anak. “Juga ada layanan multimedia. Untuk sekolah dasar adaedukasi kepada pelajar cara menggunakan internet yang baik, dan pemutaran film inspiratif,” katanya. (Adv)
Aplikasi E-SAPA Permudah Monitoring dan Perlindungan Perempuan dan Anak
SERANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten berharap aplikasi E-SAPA (Sahabat Perempuan dan Perlindungan Anak) menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dalam menjamin perlindungan terhadap perempuan dan anak. Diketahui, sistem aplikasi E-SAPA baru saja dilaunching pada 13 Agustus 2022 lalu itu langsung mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga yang menyebut, sistem tersebut merupakan yang pertama dari 142 model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Sitti Ma’ani Nina mengatakan, sistem tersebut dibuat guna mempermudah para relawan sahabat perempuan dan anak di tingkat desa membuat laporan. “Jadi (apabila relawan) sahabat perempuan dan anak menemukan adanya kekerasan terhadap perempuan adan anak bisa langsung melaporkan lewat aplikasi ini. Sehingga masalah (di bawah) terlaporkan ke kami, sehingga dapat mempermudah kami untuk melakukan monitoring dan evaluasi,” kata Nina, Senin (12/9/2022). Lebih lanjut, Nina mengungkapkan, setiap desa di Banten akan ditempatkan sebanyak 10 orang relawan sahabat perempuan dan anak. Dimana, relawan itu debntuk langsung oleh desa berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa. “Organisasi relawan ini merupakan kelompok yang (memang) konsen dalam permasalahan perempuan dan anak. Ini merupakan upaya pemerintah melalui Kementerian PPPA dalam melakukan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya. Menurut Nina, pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dimulai dari tingkat bawah. Maka tak ada lagi alasan bagi pemerintah desa, perangkat sesa, tokoh masyarakat untuk tidak pedululi terhadap perlindungan perempuan dan anak. “Jika stakeholder desa sudah peduli, maka otomatis kabupaten/kota tidak ada lagi kekerasan perempuan dan anak,” ujarnya. “Makanya ujung tombak masyarakat adalah di desa. Jadi di level desa harus menyiapkan Peratutan Desa (Perdes), lalu dalam Musawarah Desa (Musdes) diharapkan ada keterlibatan perempuan dan anak,” sambungnya. Nina menjelaskan, salah satu metode pencegahan paling dasar adalah edukasi di tengah masyarakat, khususnya terkait pola asuh anak yang benar. “Dari nol sampai 18 tahun. Pengasuhan, kesehatan, pendidikam dan perlindungan. Yang tentunya mendukung DRPPA yang langsung dilaunching oleh Menteri PPA untuk me untuk mendukung program unggulan dari pusat. Dan kalau di daerah mendukung RPJMD kabupaten/kota,” jelasnya.(ADV)
Dinas Sosial Ambil Peranan Penting Dalam Pencegahan Stunting di Banten
SERANG – Upaya menekan angka stunting di Provinsi Banten terus dilakukan. Salah satunya oleh Dinas Sosial Provinsi Banten. Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Banten Budi Darma Sumapradja menyatakan peran kebijakan lintas sektoral harus menjadi prioritas utama dalam penanganan stunting. “Apa yang dilakukan Dinsos tidak dapat berdiri sendiri, harus dilakukan secara holistik, integratif dan yang terpenting adalah berkelanjutan,” ucap Budi, Rabu (26/7/2022). Dijelaskan bahwa penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial dapat berperan aktif dalam upaya-upaya menurunkan Prevalensi Stunting. Antara lain memastikan para penerima manfaat untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang merupakan syarat diterimanya bantuan sosial. “Misalnya pada program PKH (sekitar 300 ribu keluarga penerima manfaat), dalam pelaksanaan programnya para pendamping PKH memastikan bahwa syarat-syarat program yang terkait dengan stunting dilaksanakan oleh para KPM,” ucapnya. Kemudian imunisasi lengkap bagi balita, dan kewajiban mendapatkan tablet ferium minimal 4 kali dalam satu masa kehamilan bagi ibu hamil dan lainnya. Dengan syarat-syarat program tersebut, lanjutnya, secara otomatis para KPM akan terhindar dari stunting. “Selain itu masih banyak upaya-upaya preventif lain yang dapat diikutsertakan dalam pelaksanaan program-program kesejahteraan sosial,” tutur Budi. Budi mengatakan, Dinsos Banten memberikan apresiasi setinggi-tingnya pada DPRD Banten melalui komisi V yang telah dan akan selalu memberikan dukungan politik anggaran bagi penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Terpisah, Ketua Komisi V Yeremian Mendrofa menyebutkan bahwa penanganan stunting di Banten butuh kerja sama lintas sektoral. Dalam kesempatan yang sama ia mengapresiasi beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) di Banten yang sudah dengan sigap bahu membahu menangani stunting. Khsus untuk Dinas Sosial Provinsi Banten, program keluarga harapan (PKH) merupakan salah satu intervesi konkret kepada keluarga yang mengalami kendala kesejahteraan sosial. “Intervensi semacama ini sangat dibutuhkan, khususnya bagi keluarga yang secara sosial belum sejahtera. Karena faktor yang menyebabkan terjadinya stunting dalam keluarga yang memang mengalami kendala kesejahteraan sosial,” kata Yeremia. Program tersebut, ia menyebutkan sangat sejalan dengan program pemerintah pusat untuk bersama-sama daerah dalam penanganan stunting di Banten (Advertorial)
Targetkan Bebas Campak Rubela di 2023, Provinsi Banten Launching Program Bulan Imunisasi Anak Nasional
SERANG – Pemprov Banten melalui Dinkes melakukan launching imunisasi pada anak-anak agar bebas campak rubela di tahun 2023. Hal itu dilakukan sebagai langkah nyata Pemrov Banten menyuskseskan program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) Kemenkes RI yang bertujuan mempersiapkan generasi anak bangsa tumbuh kembang lebih tangguh dan kuat dari penyakit. Diketahui, BIAN adalah pemberian imunisasi tambahan Campak-Rubela serta melengkapi dosis Imunisasi Polio dan DPT-HB-Hib yang terlewat. Program ini diwujudkan sebagai upaya menutup kesenjangan imunitas anak dengan melakukan hamonisasi kegiatan imunisasi tambahan (campak-rubela) dan imunisasi kejar (OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib). Tahapan pelaksanaan diselenggarakan pada bulan Mei 2022. Adapun wilayah pelaksanaannya adalah di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Tahap kedua dilaksanakan pada bulan Agustus 2022. Wilayah sasaran dari program imunisasi tahap kedua ini adalah Pulau Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten) dan Provinsi Bali. BIAN bermanfaat untuk mencegah kesakitan dan kecacatan akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Yakni, campak, polio, pertusis (batuk rejan), rubella, difteri, hepatitis B, pneumonia (radang paru), dan meningitis (radang selaput otak) Pj Gubernur Banten, Al Muktabar mengatakan, imunasasi sangat penting bagi daya tahan generasi anak-anak agar kekebalan tubuh mengikuti tumbuh kembang anak. “Kita ingin memiliki anak yang kuat. Momen kita sangat penting karena meletakan dasar generasi kita kedepan. Pemerintah hadir memberikan layanan se-optimal mungkin untuk masyarakat,” katanya saat launching, Senin 1 Agustus 2022. Ia menerangkan, imunisasi massal anak dimulai 1 Agustus 2022 hingga akhir September 2022. Menurutnya, imunisasi anak bagian layanan dasar kesehatan bagi generasi muda Provinsi Banten. Adapun sasarannya 271 ribu campak dan rubela dan yang dikejar ada 400 ribu. Ia menyatakan, imunisasi anak dapat dilakukan di Puskesmas, seluruh RS, klinik, posyandu. “Diharapkan orangtua berkenan untuk melakuan imunisasi anak kita supaya tumbuh sehat agar generasi muda kita lebih baik,” katanya. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, ada gep data yang dimiliki Kemenkes dan daerah. Namun jumlah target dari keseluruhan imunisasi anak sebanyak 1,6 juta. “Targetnya 900 ribu lebih, kita pemetaan di lapangan hanya ada 534.359. Kesenjangan 300 ribu ini kita harus kerja keras mencari sesuai arahan pusat,” ujarnya. Ati menjelaskan, sasaran imunisasi anak untuk campak dan rubela di usia 9 sampai 59 bulan tanpa memandang imunisasi dengan mengulangi seluruh imunisasi jenis apapun. Kemudian imunisasi kejar untuk anak usia 12 sampai 59 bulan yang belum lengkap mendapatkan imunisasi, seperti polio, IPP, polio oral, DPT. “Untuk IPP sasaran dari Kemenkes 476.485. OPP oralnya ada 148.480 dan ada gep kesenjangan di lapangan. Seperti IPP pun hanya ada 90.050 yang belum tervaksin dan OPP ada 138.814 yang belum tervaksin,” katanya. Menurutnya, sasaran DPT menurut Kemenkes ada 34.653, tapi kenyataan di lapangan ada 134.964. Dalam kurun waktu 1 sampai 31 Agustus, imunisasi di Provinsi Banten wajib selesai dilaksanakan dengan target minimal 95 persen. Sehingga pada September, nantiya dilakukan sweeping, door to door bagi anak yang belum diimunisasi. Imunisasi ini diharapkan dapat mencegah timbulnya penyakit. Selain itu juga, imunisasi bagian upaya untuk bebas dari campak rubela di 2023. “(Traget keseluruhan) 1,6 juta untuk satu bulan. Semua Faskes bekerjasama semua dengan klinik, Posyandu, dokter praktik. Nanti tahun 2023 harus bebas dari rubela,” ujar Ati. Pelaksanaan BIAN) dilakukan di Provinsi Banten serentak mulai Tanggal 1 Bulan Agustus sampai 14 September 2022 di seluruh fasilitas pelayanan Kesehatan baik tingkat pertama maupun lanjutan baik fasilitas pelayanan Kesehatan milik Pemerintah maupun swasta seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Posyandu dan pos-pos pelayanan kesehatan lainnya serta di sekolah-sekolah seperti TK dan PAUD. “Ayo Bapak dan Ibu kita ajak anak-anak kita ke pos pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional yang akan terselenggara per 1 Agustus sampai dengan 14 September 2022 ini dan pastikan anak anak kita mendapatkan imunisasi campak rubella dan imunisasi lainnya untuk melindungi anak anak kita dari penyakit campak, polio, pertussis, rubella, difteri, hepatitis B, pneumonia dan meningitis. Mari Bapak dan Ibu lindungi anak anak kita dengan imunisasi lengkap, demi kesehatan masa depan anak kita,” ajak Ati.***
Bentuk Karakter Anak, DPK Banten Gelar Bedah Buku
Dalam rangka membentuk karakter anak agar lebih baik, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten menggelar bedah buku atau disebut Ngobrolin Buku Anak di kantornya, Jumat (23/7/2022). Buku yang dibedah dalam acara tersebut, pertama buku ‘Aku Berbagi Aku Happy’ karya Cicih Mulyaningsih, dan buku kedua yakni buku ‘Mengenal Profesi Bersama Hewan Favorit’ karya Tauny Akbari bersama dua orang lainnya Dian Siti, dan Reny Ananter. Pustakawan DPK Provinsi Banten, Nova Wisnu Herani mengatakan, kegiatan ngobrol buku merupakan kegiatan rutin yang dilakukan olehnya dalam setiap bulan. Buku yang dibedah pun berbagai macam tema dan judul. “Setiap bulan kita selalu membedah buku, jadi kalau setahun bisa 12 kali kita lakukan,” katanya. Namun, kali ini spesial, berbarengan dengan Hari Anak Nasional buku yang dibedah pun bertemakan tentang pembentukan karakter anak. Kemudian penulis bukunya juga lokal Banten. “Sekarang kita mengundang Ibu Cicih dan Kak Tauny yang merupakan penulis lokal Banten, mereka menyerahkan tulisannya ke kami sebagai bentuk koleksi karya ceta karya rekam, dan penerbit juga lokal,” terangnya. Ia menuturkan, salah satu pembentukan karakter yang ada dalam buku ‘Aku Berbagi Aku Happy’ yakni berbuat baik dengan berbagi tidak perlu dilakukan dengan hal besar, melainkan hal kecil pun sudah dapat membahagiakan orang lain. “Contohnya ke tetangga memberi daun itu juga sudah berbagi, dan itu bisa menyenangkan hati orang lain, doa pun, kita ajarkan kebaikan memberikan doa, kalau temannya sakit,” ungkapnya. Penulis buku Cicih Mulyaningsih mengatakan, buku yang ia tulis diperuntukkan bagi anak yang sudah memasuki Sekolah Dasar (SD) kelas 3 hingga 6. Dalam buku tersebut terdapat 10 cerita yang menggambarkan bagaimana sang anak bisa berbagi dengan orang lain yang tidak selalu berupa uang, bahkan doa pun juga sudah termasuk. “Misalnya memberikan gula kepada semut, itu juga sudah berbagi, jadi memberikan apa saja yang bisa diberikan, termasuk juga dengan senyum kepada orang lain,” katanya. Sementara itu, Penulis lainnya, Tauny Akbari dalam buku yang ia tulis ‘Mengenal Profesi Bersama Hewan Favorit’ yakni berupa mengenalkan profesi dalam bentuk karakter hewan. “Pesannya adalah mengenalkan profesi kepada anak, seperti guru bukan hanya sekedar mengajar tapi perannya juga banyak, dan profesi yang lain berawal dari guru,” paparnya. (adv)










