Gempa bumi kembali guncang Banten Selatan, kali ini kekuatan gempa sampai 5,5 magnitudo. Efek getaran dari gempa dirasakan di wilayah Lebak sampai Pandeglang, Banten.
Menurut data yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) gempa berkekuatan 5,5 magnitudo itu berada di 77 kilometer lepas pantau Bayah, Kabupaten Lebak. Dengan kedalaman 10 kilometer
Gempa tersebut terjadi pada pukul 17.10 WIB dan tidak berpotensi tsunami. Sampai saat ini belum ada laporan terrusakan akibat gempa yang terjadi.
TANGERANG – Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Kholid Ismail meminta Pemkab Tangerang menangani langsung kasus stunting. Salah satunya, yang terjadi pada dua warga Desa Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga atas nama Andan Kalla dan Fahira. Diketahui, kedua anak tersebut dan keluarganya hingga saat ini belum mendapatkan bantuan dan program apapun dari Pemkab Tangerang. Kholid menyayangkan sikap Pemkab Tangerang yang terkesan tidak peduli terhadap Ananda Kalla dan Fahira. Padahal rumah mereka tidak jauh dari Puskesmas dan kantor pemerintahan. “Kalau memang belum tersentuh program bantuan dari Pemkab, ini sudah keterlaluan. Saya minta Pak Bupati untuk mengambil tindakan,” kata Kholid Ismail, Ketua DPRD Kabupaten Tangerang. Kholid menuturkan, Bupati Ahmed Zaki Iskandar agar segera merotasi organisasi perangkat daerah (OPD) yang abai soal pengentasan stunting. Dia juga menegaskan, DPRD akan memanggil OPD terkait apabila masalah Pemkab masih acuh. “Kalau masih belum ada tindakan, OPD – OPD terkait akan kami lakukan evaluasi,” tegasnya. Cita, orangtua Adinda Kaila mengaku sampai saat ini pihaknya belum mendapat perhatian apapun dari Pemkab. Padahal dia membutuhkan uluran tangan baik program bantuan berkelanjutan melalui jaring pengaman sosial atau program kesehatan untuk Ananda Kalla. Fami, orangtua Fahira mengaku pernah dijanjika untuk diberi bantunan melalui berbagia program pemerintah. Namun janji itu tidak pernah ditepati. Menurutnya, ketika keadaan putrinya sempat ramai diberitakan Pemerintah baru bertindak. Namun, setelah itu sudah tidak ada lagi uluran tangan pemerintah. “Sampai sekarang belum ada lagi bantuan yang datang untuk menunaikan janji-janjinya bang,” tuturnya. Camat Teluk Naga, Zamzam Manohara Bungkam saat dihubungi melalui telepon, langsung merijek panggilan. Panggilan telepon itu untuk mengkonfirmasi pernyataan Ketua DPRD Kabupaten Tangerang. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Desiriana Dinardianti membalas dengan pesan singkat. “Tks (terima kasih) infonya, akan saya cek dan tindaklanjuti,” kata Kadinkes. Pernyataan serupa terjadi 1 bulan lalu saat dikonfirmasi. Namun tindak lanjut yang dijanjikan tidak terealisasi. Sebelumnya. dua anak asal Desa Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang mengalami pertumbuhan fisik tak wajar. Keduanya saat ini tumbuh dengan berat badan sekira 6 Kg. Padahal, usia mereka sudah sekira 4 tahun dan lebih Adinda Jihan Mikaila Ramadhani (Kaila), warga RT.002/RW.004, perempuan kelahiran Kabupaten Tangerang tahun 2018 dari pasangan Mustopa (34) dan Cita (28), kini sudah berusia sekira 4 tahun. Namun, berat badannya hanya seberat 6 Kg. Mustopa, ayah Kaila mengatakan, saat dilahirkan berat badan adinda Kaila normal sekira 2,7 Kg. Namun, sekira usia 3 bulan Adinda Kaila mengalami kejang – kejang. “Badannya Kaila kurus,” ungkap Ayah Kaila, Mustopa saat diwawancara melaui sambungan telpon. Mustopa mengharapkan, Pemkab agar turun tangan membantu kesulitan yang dialaminya saat ini khususnya untuk kesehatan Kaila, putri semata wayangnya itu.
SERANG,– Warga di jalan Sayabulu, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang mengeluhkan kondisi jalan yang kembali berlubang. Karena, ruas jalan itu merupakan akses jalan alternatif menuju Jalan Raya Serang-Pandeglang dan selalu ramai dilalui kendaraan karena melintasi sejumlah kawasan perumahan. Jalan ini belum ditambal sulam. Musim hujan membuat jalan kembali berlubang sehingga membahayakan pengguna jalan. Apalagi pada malam hari karena minimnya lampu penerangan jalan. “Jalan ini membahayakan pengendara, termasuk saya sering mengalaminya ketika pulang pergi dari kantor menuju rumah. Kalau lewat Kebon Jahe kan jauh dan kadang macet di jembatannya, dan saya sering lewat sini ,” kata Fikram, warga yang kerap melintasi jalan tersebut, Rabu (1/12/2021). Apalagi sekarang musim hujan, tak pelak lubang-lubang tersebut sering tergenang air, sehingga tak terlihat dari kejauhan oleh pengendara. “Akibatnya banyak pengendara yang kejebak kena lubang, dan berpotensi kuat jatuh korban kecelakaan,” ucapnya. Senada disampaikan warga lainnya bernama Ucu. Ia juga mengeluhkan yang sama. Ia sering kejebak terkena lubang ketika melewati ruas Jalan tersebut. “Saya berharap Wali kota Serang segera memerintahkan instansi terkait untuk secepatnya memperbaiki lubang karena dikhawatirkan menimbulkan korban jiwa. Tolong lah, jangan sampai nunggu korban jiwa baru dibangun. Minimal pemeliharaan jalan dengan tambal atau gimana lah. Yang penting pengendara aman dan selamat,” ucapnya. (Arr)
SERANG – Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy meminta persoalan penyempitan badan sungai menjadi concern atau perhatian semua pihak tanpa kecuali, baik pemerintah maupun masyarakat. Menurutnya, penyempitan badan sungai di Cibanten diyakini menjadi penyebab utama terjadinya banjir di Kota Serang Selasa (1/3) lalu. “Lihat itu, masa sampai ada bangunan yang menjorok, nyaris berada di badan sungai,” kata Andika kepada pers saat meninjau langsung kondisi aliran sungai Cibanten di kawasan Sempu, Kota Serang, Rabu (2/3). Andika yang didampingi Walikota Serang Syafrudin diajak melihat langsung penyempitan badan sungai di lokasi tersebut oleh Kepala BBWSC 3 (Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian) I Ketut Jayada, setelah sebelumnya mereka juga meninjau Bendungan Sindangheula. Menurut Andika, dalam waktu dekat ini perlu dilakukan upaya penertiban bangunan yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS). Andika meminta Pemkot Serang sebagai Pemda yang berwenang terkait Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di wilayah Kota Serang yang dilintasi Sungai Cibanten melakukan langkah-langkah penertiban. Saat ini, kata Andika, Pemprov Banten sendiri tengah menunggu Detail Enginering Design (DED) kegiatan penataan badan sungai dan DAS Cibanten yang tengah dikerjakan BBWSC3. “Memang kan sudah masuk dalam perencanaan dan penganggaran pihak BBWSC3 soal penataan Cibanten ini. Nanti tiba waktu pelaksanaan pengerjaannya kami dan Pemkot Serang yang akan mengawal terkait penertiban lahannya,” papar Andika. Terkait penyempitan badan sungai sendiri, Andika mengakui hal itu bukan hanya disebabkan oleh berdirinya bangunan-bangunan di DAS. Lebih dari itu perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan dengan membuang sampah ke sungai juga menjadi penyebab terjadinya penyempitan badan sungai. “Jadi minta tolong kepada teman-teman pers juga untuk bisa ikut membantu mengedukasi masyarakat terkait dengan peduli lingkungan ini,” kata Andika. Sebelumnya saat meninjau Bendungan Sindangheula, Kepala BBWSC 3 I Ketut Jayada menerangkan kepada Andika dan Syafrudin, bahwa pada malam hari sebelum terjadinya banjir di Kota Serang tersebut, wilayah Kota Serang dan wilayah hulu aliran Sungai Cibanten di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi dan di luar kebiasaan. “Curah hujannya mencapai 243 mm dengan durasi yang sangat lama, dan (hujan) ini yang disebut dengan hujan kala ulang yang siklusnya 200 tahunan. Ini luar biasa sekali,” kata Ketut. Akibat curah hujan yang luar biasa tinggi tersebut, Bendungan Sindangheula mengalami kelebihan volume air sebanyak 2 juta kubik dari kapasitas maksimumnya yang sebesar 9 juta kubik. Kelebihan volume air sebesar 2 juta kubik itu lah, kata Ketut, yang kemudian secara alami mengalir ke sungai Cibanten. “Masalahnya Sungai Cibanten kondisinya mengalami penyempitan dan sedimentasi sehingga tidak mampu secara aman mengalirkan kelebihan daya tampung Bendungan Sindangheula yang sebesar 2 juta kubik tersebut ke wilayah hilir Sungai Cibanten di perairan laut di Kota Serang dan Kabupaten Serang,” paparnya. Senada dengan Andika, Ketut meminta masyarakat dan Pemerintah Daerah untuk dapat memperlakukan sungai bukan sebagai halaman belakang sehingga kemudian tidak mempedulikan kondisi sungai. “Nanti kalau sudah kita tata, mari kita jaga sungai bersama-sama. Jadikan sungai itu sebagai beranda, sebagai teras depan rumah sehingga kita ingin mempercantik dan menjaganya terlihat baik,” kata Ketut. Untuk diketahui, sebelum kunjungan ke Bendungan Sindangheula dan titik penyempitan badan Sungai Cibanten di kawasan Sempu tadi, Andika memimpin Rapat Koordinasi terkait penanganan banjir Kota Serang tersebut di Pendopo Gubernur Banten, Kota Serang. Selain diikuti oleh Syafrudin dan Ketut, rapat juga diikuti oleh Sekretaris Daerah Pemprov Banten Al Muktabar, dan Asisten Daerah I Pemprov Banten Septo Kalnadi. Sejumlah Kepala OPD Pemprov Banten tampak hadir di antaranya Kepala BPBD Nana Suryana, Kepala Dinas PUPR Arlan Marzan, Kepala Dinas Sosial Nurhana dan Kepala Satpol PP Agus Supriyadi. Sementara Syafrudin sendiri tampak didampingi Sekretaris Daerah Pemkot Serang Nanang Saefudin. Juga tampak hadir mewakili Pemkab Serang, Kepala BPBD, Nana Sukmana Kusuma. (red)